oleh

HJL Dan HPRL Jadi Momentum Penerapan Protkes di Luwu Utara

LUWU UTARA, INPUTSULSEL.COM — Peringatan Hari Jadi ke-753 Tana Luwu (HJL) dan Peringatan ke-75 Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) yang tahun ini dipusatkan di Kabupaten Luwu Utara, dipastikan akan berlangsung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan dunia masih berselimut wabah pandemi Covid-19. 10 bulan masa pandemi Covid-19 hingga saat ini, dan entah kapan akan berlalu, dirasa sangat panjang dan melelahkan. Strategi penanganan guna memutus mata rantai penularan SARS-COV-2, penyebab Covid-19, juga acapkali menemui kendala, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, manusia harus terus melangkah di tengah keterbatasan.

Berbagai kegiatan juga dipastikan kehilangan momentum kemeriahan disebabkan berbagai keterbatasan yang ada. Kendati demikian, keterbatasan tidak harus semakin membatasi gerak, malah sebaliknya harus semakin melapangkan gerak untuk tetap melangkah luas di tengah keterbatasan. Seorang penulis asal Amerika Serikat, Helen Keller, pernah mengatakan, “Aku jarang memikirkan keterbatasanku dan itu tak pernah membuatku bersedih.” Nah, apa yang dikatakan Helen Keller seharusnya bisa menginspirasi semua orang untuk tetap melangkah tanpa harus memikirkan segala keterbatasan yang ada.

Nah, momentum Peringatan HJL/HPRL tahun ini dipastikan akan berlangsung sederhana, dan digelar virtual. Kendati demikian, Luwu Utara tak ingin kehilangan momentum historis HJL dan HPRL untuk tetap membangun sinergi antardaerah se-Tana Luwu, karena kepercayaan menjadi tuan rumah adalah kehormatan dan penghargaan yang harus dilaksanakan, meski pada situasi yang serba terbatas. Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, mengatakan, untuk membangkitkan kemeriahan di tengah wabah, tak harus selalu ditunjukkan dengan banyaknya manusia yang berkumpul. Menurut dia, banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangkitkan kemeriahan di tengah pandemi yang penuh dengan pembatasan-pembatasan.

“Kemeriahan itu sebenarnya bisa kita hadirkan di dalam diri kita masing-masing, dan saya berharap, meskipun dalam suasana yang serba terbatas, kemeriahan Hari Jadi Luwu harus tetap hadir di dalam diri semua orang,” jelas Indah. Bagaimana caranya? Orang nomor satu di Lutra ini menyebutkan, cara terbaik menghadirkan kemeriahan di tengah keterbatasan adalah semua orang harus mengambil peran dalam penegakan protokol kesehatan. “Cara paling efektif yang paling dibutuhkan saat ini adalah ikut berpartisipasi menegakkan protokol kesehatan. Harus betul-betul disiplin terhadap protokol kesehatan, tidak boleh abai,” imbuhnya.

Bahkan dirinya tak segan-segan menegur orang yang abai terhadap protokol kesehatan. Hal ini penting dilakukan, tak hanya dalam perayaan hari-hari besar, seperti Hari Jadi Luwu, tapi juga di pesta pernikahan. Untuk itu, pada puncak peringatan Hari Jadi Luwu yang jatuh pada 23 Januari 2021 dan dipusatkan di Aula La Galigo Kantor Bupati, masyarakat diminta memeriahkan momentum ini menjadi momentum penegakan protokol kesehatan. “Mungkin masyarakat tak bisa hadir langsung mengingat kondisi masih pandemi, tapi dengan banyaknya orang memasang umbul-umbul di depan rumah masing-masing menandakan kita semua telah ikut memeriahkan momentum historis bagi masyarakat Tana Luwu ini,” tandasnya.

Luwu Utara sebagai tuan rumah siap menggelar Puncak Peringatan Hari Jadi Luwu meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Pemda Lutra juga telah melakukan beberapa kegiatan menyambut Hari Jadi Luwu, di antaranya Silaturahmi Virtual Antar-stakeholder Penanganan Covid-19 dan Bencana Alam, Ziarah ke Taman Makam Pahlawan Masamba serta Ziarah ke Makam Datuk Pattimang dan Raja XV Luwu. Sekadar diketahui, para tamu undangan yang diundang langsung menghadiri HJL di Masamba, juga harus memperlihatkan hasil tes swab antigen untuk memastikan pelaksanaan Hari Jadi Luwu bebas penularan Covid-19. Adapun tema yang diangkat adalah Sinergi Tana Luwu Aman dan Sehat. (**)

Komentar