Politisi Versus Profesional

Senin , 28 Oktober 2019 06:13
Jokowi-Ma'ruf bersama para menteri. FT: IST
Jokowi-Ma'ruf bersama para menteri. FT: IST

Oleh: Muhammad Fauzi, SE (Anggota DPR RI)

INPUTSULSEL.com — Presiden Joko Widodo dan Wakilnya Ma’ruf Amin baru saja selesai mengumumkan kabinet di era pemerintahan ke-II Jokowi.

Presiden mencoba meramu semua masukan dari berbagai pihak dengan harapan paling tidak semua kepentingan diakomodir dengan tetap pada nilai-nilai kepentingan di lapangan.

Inilah kabinet kompromi ala Jokowi, walaupun sudah pasti ada yang tidak puas karena untuk memuaskan semua pihak bukan suatu yang mudah, apalagi dalam dunia politik lebih banyak dibingkai dengan universalnya sebuah kepentingan yang ada dan berkembang kadang begitu cepat.

Bila kita perhatikan saat ramai-ramainnya pembicaraan proses penempatan menteri di ruang publik, ada dua unsur kelompok yang menjadi latar belakang dari para menteri tersebut yaitu unsur Politisi dan Profesional.

Dua suku kata yang disebutkan mempunyai makna seolah-oleh sesuatu yang berbeda bila dilihat fungsinya, padahal bila dilihat dari teknisnya dua suku kata ini memiliki sesuatu yang saling melengkapi satu sama lain.

Kesan saya bila dilihat dari sisi teknisnya seolah-olah pada saat dia merupakan orang Partai maka tidak profesional, kata profesional hanya milik orang di luar politisi sementara unsur profesional sudah pasti bukan politisi, begitulah bila kita hadap-hadapkan dua suku kata itu.

Maaf bukan maksud untuk merendahkan orang-orang yang bukan berbasis politisi bagi kami untuk menjalankan roda oraganisasi Partai Politik sehingga kita disebut politisi sangat dibutuhkan profesional itu.

Sebab apabila organisasi partai politik tidak dijalankan secara profesional maka akan tunggu kehancuran, bahkan di dalam organisasi partai politik dinamikanya begitu sangat kuat sehingga dibutuhkan kemampuan secara managerial untuk menyelesaikan masalah yang ada dengan tetap membuka ruang aspirasi yang sebesar-besarnya sehingga demokrasi itu tetap hidup.

Hal ini dalam rangka mendewasakan politisi dalam dinamika yang ada dan
itu hanya bisa dilakukan apabila politisi itu juga profesional.

Sementara orang-orang yang tumbuh besar sehingga menjadi profesional dinamikanya tidak sekuat di dalam oraganisasi partai politik terutama yang sulit didapat adalah bagaimana suasana demokrasinya hidup.

Makanya kalau saya tidak begitu sepakat menghadap-hadapkan dua unsur kata politisi dan profesional karena menurut saya justru dua unsur kata itu sekali lagi saling melengkapi.

Profesional itu harus ada di semua bagian dalam kehidupan manusia sehari-hari termasuk politik.
Jangan sampai masyarakat berpikir orang partai itu tidak profesional, jadi harus kita tempatkan makna dari kedua unsur kata politisi dan profesional secara benar. (*)

Komentar