Komando Pertanian di Tangan Komandan

Rabu , 23 Oktober 2019 12:44

Oleh : Masluki, S.P,. M.P. (Mahasiswa Program Doktoral IPB University)

INPUTSULSEL.com — Bagi masyarakat Sulsel, Dr. Syahrul Yasin Limpo merupakan sosok pemimpin yang sangat familiar. Begitupun pada skala nasional, beberapa moment beliau diundang distasiun TV pemerintah maupun swasta nasional sebagai narasumber atas capaiannya.

Tagline “Komandan” yang disematkan padanya mungkin bagi kebanyakan orang hanya berlaku pada aras militer saja. Dibalik itu, tentu ada pesan tersirat.
Sebagai pemegang tongkat komando, menertibkan prilaku gerakan tambahan bawahan adalah pilihan yang tepat untuk mencapai visi yang besar.

Sebagai pemimpin kharismatik dan visioner, di beberapa kegiatan, pidato komandan selalu membius audiens dengan intonasi tegas, santun dan bernas.

Bagi kebanyakan orang, tentunya komandan bukanlah pemimpin retoris belaka. Beliau adalah berlian dari Timur Indonesia yang selalu membawa pesan kedamaian dan kemajuan bagi bangsa.

Sebagai pemimpin yang ditempah dari birokrasi level paling rendah tingkat lurah, kecamatan, bupati, wakil gubernur, gubernur, hingga menteri pertanian hari ini tentu bukanlah capaian yang mudah.

Di rimba raya politik, berbekal kerja keras dan cerdas, karier beliau begitu mentereng. Segudang prestasi telah ditorehkan, keberhasilan beliau mengantarkan pertumbuhan ekonomi Sulsel 7.8% dengan surplus jagung ditengah krisis global hingga ekspor ke Malaysia dan Filipina patut di acungi jempol.

Puncaknya, beliau diganjar penghargaan sebagai gubernur terbaik versi kepemimpinan daerah “Leadership Award 2017”. Di tangan beliau, Sulsel menjadi lumbung beras nasional dengan surplus beras 2.3 juta ton pada tahun 2017 dan surplus jagung dengan tren kenaikan spektakuler 1.5 juta ton 2015, 2.1 juta ton 2016 dan 2.23 juta ton 2017.

Di hadapan publik, komandan yang berlatar birokrasi, politisi dan pendidikan hukum hingga level doktoral yang diraihnya di Unhas mungkin saja dianggap tak relevan dengan jabatan tertinggi yang membutuhkan profesi keahlian di bidang pertanian.

Dipilihnya komandan menahkodai Kementan periode II Presiden Jokowi bukan tanpa alasan yg logis. Berbekal pengalaman leadership yang mempuni, tentu beliau sangat paham bagaimana jalan terang untuk keluar dari labirin problematika pertanian saat ini.

Pertanian sebagai hidup mati bangsa tentu tak ingin tersandra oleh regulasi tata niaga, perbenihan, UU Sistem Budidaya Tanaman, UU Perlindungan Tanaman dan UU Perlindungan Lahan Pangan Berkelanjutan. Saat ini, segudang polemik pertanian sedang menunggu tangan – tangan sakti komandan.

Di arena global; laju pertumbuhan penduduk, perang dagang dan perang pangan yang berimbas pada makin tidak sehatnya ekosistem pasar pangan dunia akan memicu ancaman krisis pangan di masa yang akan datang.

Sebagai negara agraris, tentunya arah pembangunan pertanian tak boleh terjebak dalam rutinitas program yang berbasis prosedural dan seremonial belaka. Untuk maju, kita harus memperkuat daya mendobrak segala lini pintu seraya mengokohkan basis kedaulatan pangan dan membuka kran ekspor produk pertanian.

“Selamat Datang Komandan Pangan”.

.

.

.

Komentar