Explore Rampi-Seko, Menembus Jalur Zaman Belanda

Jumat , 23 Agustus 2019 21:50

Bumm.. Bumm.. Bumm..
Aungan suara motor trail terdengar sangar, kala 71 raiders di Depan Polres Luwu Utara, bersiap menelusuri jalur yang belum pernah dilalui sama sekali menggunakan motor. Bahkan pejalan kaki sekalipun hanya pernah dilalui sekitar tahun 80an silam.

Oleh : Rizal Muthahhari

INPUTSULSEL.com — Semangat para raider tim trail adventure yang datang dari berbagai daerah di Indonesia seolah belum memikirkan sulitnya medan yang akan dihadapi nantinya. Melewati jalur ekstream, setapak berjurang dan penuh lumpur. Dibutuhkan keberanian dan keahlian menunggangi si kuda besi motor trail.

Tanggal 14 Agustus 2019 star dari ibu kota Luwu Utara, Masamba menuju kecamatan terpencil Rampi menempuh jarak sekitar 85 kilometer. Kapolres Luwu Utara, AKBP Boy FS Samola mengangkat bendera star melepas mereka sebagai peserta Explore Rampi-Seko Semarak HUT RI 17 Agustus 2019.

“Kegiatan ini bertujuan mengEkplore Rampi-Seko. Sekaligus membantu pemerintah daerah membuka jalur yang menghubungkan Rampi dan Seko,” ungkap Kapolres AKBP Boy.

Bersama IOX Indonesia dan Sulsel, para raider yang tergabung dalam 10 team meninggalkan kota Masamba pukul 08.00 pagi. Melalui kubangan jalan dan berjurang akhirnya tiba di Desa Sulaku Kecamatan Rampi sekitar pukul 05.00 sore sekaligus bermalam di rumah penduduk.

“Yang tiba jam 05.00 wita itu adalah peserta yang pertama tiba. Banyak yang agak belakangan. Bahkan sampai jam 12.00 malam.” ujar salah seorang raider lokal, Tonni, yang juga sebagai panitia.

Peserta melanjutkan perjalanan keesokan harinya, sekitar pukul 08.00 pagi menuju desa Tedeboe Kecamatan Rampi. Mereka harus menempuh perjalanan sekitar 35 kilometer. Melalui jalur jalan antar kampung atau desa. Namun jalurnya juga cukup ekstrim.

Saat tiba di Tedeboe langsung disambut oleh masyarakat setempat dengan prosesi adat Rampi. Berupa tarian dan pengalungan bunga serta ayam putih kepada perwakilan peserta. Prosesi itu memang sering dilakukan apabila kampung kedatangan tamu istimewa.

“Disitu kami hanya beristirahat sejenak. Sambil menikmati suguhan kopi dari warga.” ucap Ipda Muaz, juga salah seorang panitia.

Lalu kemudian melanjutkan perjalanan menuju kaki gunung perbatasan Rampi Seko. Jalurnya semakin menantang. Tidak sedikit dari peserta yang mengernyitkan dahi melewati tantangan jalur. Terlebih harus menyeberangi 3 sungai besar.

Saat peserta pertama tiba di kaki gunung sekitar pukul 18.00 wita, langsung menggelar tenda sebagai tempat peristirahatan. “Peserta terakhir ada yang tiba pukul 12.00 malam. Tempat itu adalah post atau camp kedua.” masih cerita Ipda Muaz.

Di kaki gunung itu juga partisipasi warga setempat sangat luar biasa. Mereka banyak membantu menuju kaki gunung. Bahkan mereka membawa bekal berupa “Peong” (beras yang dibakar di dalam bambu). Peong itulah yang disantap malam oleh para peserta yang telah keletihan.

Jam 7 pagi peserta mulai berkemas, membongkar tenda. Sekaligus mempersiapkan diri menuju Puncak. Jalur yang paling ekstrim. Memanjatkan doa semoga diberi kemudahan untuk menggapai puncak menggunakan tunggangan besi itu.

Ketua IOX Indonesia, Teddi Wibowo, terus memberi semangat melalui breafing. Sekaligus berbagi teknik dan ketangkasan agar bisa menembus jalanan yang penuh pepohonan dan akar besar. Pukul 08.00 satu persatu tim meninggalkan tempat.

Untuk menggapai puncak gunung yang hanya berjarak 6 kilometer tidaklah mudah. Diperlukan kerjasama tim. Jalannya betul-betul mengerikan. Jika salah sedikit bisa terjatuh ke jurang bersama motor tunggangan.

Dari cerita peserta, sangat mengerikan jalannya. Akar besar yang berlumut. Ditambah jalurnya sangat sempit dan jurang terjal. Saat perjalanan, bahkan ada peserta yang pasrah dan menangis. Ada pula yang tidak sempat melanjutkan perjalanan saat dan terpaksa kembali harus bermalam di pos 2 kaki gunung.

“Ada yang jatuh hingga 15meter kebawah bersama motornya.” cerita peserta.

Memang untuk sampai ke puncak gunung, kebanyakan harus menarik motor menggunakan tali yang diikatkan di pohon. Penunggangnya mendorong dari belakang.

“Yaa Allah, tobat saya. Dosa apa aku ini bisa sampai kesini. Ada yang berucap seperti itu.” cerita beberapa peserta.

Namun, saat tiba dipuncak gunung dengan ketinggian 2.400 mdpl, ada rasa legah, puas. Seolah melupakan perjalanan yang baru saja dilalui. Perjalanan yang menguras seluruh keringat.

Di puncak gunung lalu ditancapkanlah sang Merah Putih. Sebagai bukti, tim Explore Rampi-Seko telah berhasil menaklukkan jalur yang telah puluhan tahun tak pernah dilewati. Di tempat itu terdapat sebuah patok triangulasi atau tapal puncak gunung. Konon patok tembok itu dipasang saat zaman belanda dahulu. Terakhir pernah dibuka ulang pada saat bupati Luwu, M Djampu tahun 1980an sulam.

Sungguh sangat luar biasa pemandangan. Saat tidak ada awan di Puncak Gunung dapat melihat Kecamatan Rampi dan Seko. Pemandangannya sangat cantik. Hutannya masih sangat perawan. Tak ada manusia yang berani menjamahnya. Tapi entah kemudian hari.

Namun, sesuai jadwal yang telah ditentukan peserta terpaksa harus meninggalkan puncak gunung menuju kecamatan seko. Dan sebagian tim berhasil menginjakkan kaki di Ibukota kecamatan Seko Desa Eno pada malam hari. Dimana keesokan harinya akan ikut menggelar upacara perayaan HUT RI ke 74 tanggal 17 Agustus 2019 di Lapangan Eno Seko.

Hanya saja, yang ikut hanya sebagian peserta atau tim saja. Separuhnya lagi terpaksa harus mennggekar upacara bendera di Puncang gunung. Dimana peserta yang masih tinggal di luncak adalah raider yang terlambat masuk ke puncak.

Pada hari itu juga peserta yang telah melaksanakan upacara bendera di Seko harus meninggalkan Seko. Balik kanan menuju Kecamatan Rongkong. Jalurnya masih tetap ektrim. Jalan lumayan lebar tetapi dipenuhi kubangan lumpur. Apa tah lagi, saat perjalanan sempat turun hujan.

Alhamdulillah, senin 19 Agustus 2019 sebagian besar perserta akhirnya kembali finis di Mapolres Luwu Utara, sekitar pukul 19.00 wita. Langsung disambut oleh Kapolres Luwu Utara, AKBP Boy FS Samola bersama Wakapolres Kompol H Amir Madjid. Sekaligus mengalungkan medali ke setiap peserta sebagai bukti telah berhasil menembus batas cakrawala Rampi Seko.

Adapun tim yang ikut pada Explore Rampi-Seko. Ketua IOX Indonesia, Teddy Wibowo, Ketua IOX Sulsel Dr Azis. Team Elang, Team Buaya, Team Walu Sangata, Team Soa-Soa, Team Keong Turbo, Team Jangkrik, Team Anoa Gen’it, Team Maleo, Team Pesut, dan panitia pelaksana dari Team Lutrac.

(Rizal Muthahhari)

..

Komentar