Konsorsium Hijau Lestari Dorong Kopi Seko Go Internasional

Jumat , 18 Agustus 2017 22:01 - Penulis : | Editor : Rizal

INPUTSULSEL.com — Cita rasa kopi seko tidak kalah dengan beberapa kopi yang sudah terkenal lebih dulu di Indonesia atau bahkan dunia. Hanya saja kopi seko saat ini belum terkenal luas di seluruh penjuru Indonesia.

Hal tersebut bisa dikarenakan kopi seko belum dikelolah secara baik, sehingga belum menghasilkan cita rasa yang diminati oleh para pecinta kopi.

Konsorsium Hijau Lestari (KHL) Tana Luwu mencoba mendorong melalui pendampingan terhadap petani kopi seko dan pengelolaannya. Mulai dari proses pemetikan, pemilahan, pengeringan, sangrai, rosting, hingga penyajiannya.

KLH Tana Luwu yang terdiri dari Lembaga Ekolable Indonesia (LEI), AMAN tana Luwu, Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), WALLACEA, Koperasi Produsen Aman Mandiri (KPAM), Yayasan kehutanan masyarakat Indobesia (YKMI), Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN), melaksanakan kegiatan Uji Cita Rasa Kopi (Cupping) di Cafe Challodo Masamba, Jumat (18/8/2017).

Dalam kegiatan mengundang seluruh stakeholders untuk ikut terlibat langsung melakukan penilaian terhadap kopi yang disajikan oleh panitia. Terdiri dari Kopi Arabika dan Kopi Robusta dari Seko dan sample kopi lainnya.

Penanggung jawab kegiatan, Mahir Takaka, menjelaskan kegiatan ini ingin lebih jauh memperkenalkan cita rasa kopi, khususnya kopi seko yang dianggap bisa bersaing dengan kopi lain jika diolah dengan baik.

“Kita punya misi bagaimana masyarakat di Luwu Utara utamanya di Seko dan Rongkong yang menjadi petani kopi, meningkat kapasitasnya, ada nilai tambah dari sisi ekonomi,” jelas Aktivis AMAN Pusat, Mahir Takaka.

Mahir menambahkan, Nilai sosial yang mereka miliki juga semakin kuat dalam mendorong kopi sebagai salah satu komoditi prioritas mendorong kedaulatan pangan.

“Dengan demikian Luwu Utara juga secara umum bisa dikenal dunia internasional sebagai penghasil kopi terbaik,” paparnya.

Selain itu kata putra kelahiran seko ini, melalui kopi ini bisa juga penyelamatan hutan di Luwu Utara, karena Luwu Utara merupakan wilayah terluas hutannya di Sulsel.

“Dataran tinggi pegunungan di Lutra secara ekosistem menjadi jantung sulawesi dan sumber air untuk daerah aliran sungai (DAS) di Sulawesi. Seperti DAS Lariang, DAS Karama, DAS Rongkong, dan termasul DAS Saddang. Dataran tinggi seko ini menjadi utama bagi semua DAS yang ada. Kalau tidak dikelola dengan baik bisa menjadi bencana ekologis,” Urai Mahir.

Pengelolaan Kopi Secara Prefesional

Prasetyo Hadi, coffee educator (pendamping petani kopi) sebagai fasilitator dalam kegiatan uji cita rasa kopi mengajak sekaligus mengedukasi seluruh peserta untuk lebih memahami kopi.

“Kopi seko ini sebenarnya sangat luar biasa, tergantung pengelolaan. Namun memang butuh ketekunan untuk menghasilkan nilai kopi yang tinggi,” urainya.

“Setelah kami mendampingi, dengan tiga pengelolaan minimal, yaitu olah alami, madu dan rasa bersih. Hasilnya langsung berubah dibandingkan selama ini dimana kopi belum dihargai betul. Kopi hanya dicegat di tengah jalan kemdian dijual dan dikonsumsi begitu saja,” tambahnya.

Kedepan kata Prasetyo, diharapkan mereka dapat memproduksi dan meningkatkan cita rasa kopinya dan mutunya serta bagaimana mengendalikannya. Sehingga konsumen sudah mulai mengerti menilai kopi dengan lengkap.

Sementara pesan kepada pemerintah daerah lanjut Parsetyo, peran pemerintah dalam mendorong Kopi Seko Go Internasional sangat dibutuhkan. Karena tanpa sentuhan dari pemerintah, apakah melalui kebijakan maupun teknis lainnya akan sangat sulit dicapai.

“Tapi saya juga tidak sepakat dengan cara memberi bantuan yang akan bunuh mereka. Karena biasanya bantuan lunak membuat mereka malas yang justru membunuh. Yang jelas Bupati sangat berperan penting dalam mendorong bagaimana kopi seko bernilai dan dikenal dunia,” tutup Pasetyo.

Komentar
Berita Terkait